Salam salaam. Assalamualaikum….
Hallo reders sekalian, writer
kembali menyapa anda semua. Kali ini, writer mau berbagi apa yaa??? Okelah,
writer mau cerita, boleh kan?
Hidup adalah kisah bagaimana jatuh
dan terbangun. jikalau kita jatuh dan tidak lagi terbangun, maka apakah itu
masih bisa dibilang hidup? Jadi, seperti anak semumuran 18 tahun lainnya, ada
masa dimana kita bingung banget mikirin kelanjutan hidup kita setelah SMA. Mungkin
idenya akan bermacam-macam. Mulai dari kerja, kursus, dan yang paling umum
adalah KULIAH. Inget banget, gimana bingungnya aku ketika itu. Kenapa? 1. Nilai
raporku pas-pasan dan fluktuatif banget. Jadi, kalau dipikir secara rasional,
gimana aku bisa keterima lewat jalur SNMPTN? 2. Jurusan yang aku targetkan itu
gradenya tinggi. KEDOKTERAN. Semua orang juga tau, dimana-mana masuk kedokteran
itu tergolong susah dan MAHAL. Dan, lihatlah kondisiku sekaraang…. Dimana aku
yang waktu kelas 2 SMA sukanya tidur di kelas. Padahal juga di asrama gak
terlalu punya waktu untuk belajar, karena amanah OSIS yang cukup menguras tenaga.
So, aku udah kehilangan sekian persen materi disana, itu berarti…. Perlu pengejaran
materi yang cukup gigih dan menyebalkan (loh!) 3. Perlu ijin khusus untuk
bimbel diluar. Dan itu susah bgt men…. Oiya, kalo kamu tanya “kan habis UN udah
kosong?” aku jawab: “nggak, dipondokku mah beda atuh non, masih ada ujian-ujian
lain setelah UN. Ada ujian pondok, micro teaching, fathul kutub, belum lagi
kita punya tanggungan mikirin konsep inaugurasi -atau lebih umumnya, disebut
pensi- huaaah… “ 4. Aku nggak tega sama umi-yaya kalau harus masuk ke swasta.
dan sebenernya masih ada unek-unek lain yang sempat menyulitkan proses
pengambilan keputusan.
Oke, aku putuskan untuk tanya
temen-temen. Pertama, aku nanya temen sekamar. kedua, aku tanya temen kamar
tetangga. Ketiga, aku tanya temen sekelas. Keempat, aku tanya temen sekamar
lagi- tetangga sebelah- sekelas LAGI. Terus berputar hingga beberapa bulan-hahhaa-
pastinya, temen-temenku bosen banget ndengerin pertanyaan yang itu-itu aja. “eh,
enaknya aku masukin kedokteran nggak ya?”, “eh, aku harus milih jurusan apa
nih, yang di jogja?”, “kalo selain kedokteran, enaknya ngambil apa?”, “aku
cocok nggak sih, di kedokteran?”. Oke finally, untuk SNMPTN aku masukin
kedokteran Universitas Brawijaya di urutan pertama, dan psikologi UIN SUKA di
pilihan kedua. Pilihan ketiga? Kosong…
Targetku adalah kembali ke Malang. Jadi, anggaplah
pilihan kedua adalah pilihan yang tak pernah diharapkan. Cuma untuk formalitas.
Berarti, bisa disimpulkan kalo pilihan itu adalah pilihan yang NEKAT. Apalagi kalau
melihat faktor-faktor di atas -_- dan hasilnya bisa ditebak. NIHIL. Semua temen-temen
saling menghibur. Tapi nggak tau kenapa, waktu pengumuman itu, bukannya sedih,
aku malah seneng. Kenapa? Karena pilihan kuliah di jogja , secara tidak
langsung udah kebuang dan aku sadar kalau Allah punya skenario yang jauh lebih
baik.
Oke, saatnya move on ke SBMPTN. Sebenernya,
aku juga daftar SPAN-PTKIN, tapi hasilnya juga nihil. Wkwkwk. Jadilah aku
BENAR-BENAR MOVE ON ke SBMPTN. Dari sini aku belajar. Betapa kegagalan, tidak
selalu harus diratapi dengan kesedihan. Ada banyak hal yang jauh lebih berharga
dari kegagalan itu sendiri. Pertama, disitu aku sadar, kalo sepanjang
perjalananku akan terus ada kolega yang selalu siap mendukungku di jalan
kebenaran. Mulai dari teman, umi, yaya, keluarga, ustadz-ustadzah, dan masih
banyak lagi. Dan itu jauh lebih berharga dari apa yang aku sesalkan. Kedua,
selalu ada skenario yang Allah rahasiakan dari kita. Ketika kita sudah berdoa
dan berusaha, senantiasa meminta petunjuk-Nya maka nantikanlah… Allah akan
memberikan hal yang jauh lebih baik dari arah-arah yang tak terduga. Jadi, gak
ada alasan untuk berputus asa dari rahmat-Nya ya readers. Hihihiii
Sekian readers, semoga bermanfaat
\^^/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar