Rabu, 12 Agustus 2015

aku dan SNMPTN-ku

Salam salaam. Assalamualaikum….
Hallo reders sekalian, writer kembali menyapa anda semua. Kali ini, writer mau berbagi apa yaa??? Okelah, writer mau cerita, boleh kan?
Hidup adalah kisah bagaimana jatuh dan terbangun. jikalau kita jatuh dan tidak lagi terbangun, maka apakah itu masih bisa dibilang hidup? Jadi, seperti anak semumuran 18 tahun lainnya, ada masa dimana kita bingung banget mikirin kelanjutan hidup kita setelah SMA. Mungkin idenya akan bermacam-macam. Mulai dari kerja, kursus, dan yang paling umum adalah KULIAH. Inget banget, gimana bingungnya aku ketika itu. Kenapa? 1. Nilai raporku pas-pasan dan fluktuatif banget. Jadi, kalau dipikir secara rasional, gimana aku bisa keterima lewat jalur SNMPTN? 2. Jurusan yang aku targetkan itu gradenya tinggi. KEDOKTERAN. Semua orang juga tau, dimana-mana masuk kedokteran itu tergolong susah dan MAHAL. Dan, lihatlah kondisiku sekaraang…. Dimana aku yang waktu kelas 2 SMA sukanya tidur di kelas. Padahal juga di asrama gak terlalu punya waktu untuk belajar, karena amanah OSIS yang cukup menguras tenaga. So, aku udah kehilangan sekian persen materi disana, itu berarti…. Perlu pengejaran materi yang cukup gigih dan menyebalkan (loh!) 3. Perlu ijin khusus untuk bimbel diluar. Dan itu susah bgt men…. Oiya, kalo kamu tanya “kan habis UN udah kosong?” aku jawab: “nggak, dipondokku mah beda atuh non, masih ada ujian-ujian lain setelah UN. Ada ujian pondok, micro teaching, fathul kutub, belum lagi kita punya tanggungan mikirin konsep inaugurasi -atau lebih umumnya, disebut pensi- huaaah… “ 4. Aku nggak tega sama umi-yaya kalau harus masuk ke swasta. dan sebenernya masih ada unek-unek lain yang sempat menyulitkan proses pengambilan keputusan.
Oke, aku putuskan untuk tanya temen-temen. Pertama, aku nanya temen sekamar. kedua, aku tanya temen kamar tetangga. Ketiga, aku tanya temen sekelas. Keempat, aku tanya temen sekamar lagi- tetangga sebelah- sekelas LAGI. Terus berputar hingga beberapa bulan-hahhaa- pastinya, temen-temenku bosen banget ndengerin pertanyaan yang itu-itu aja. “eh, enaknya aku masukin kedokteran nggak ya?”, “eh, aku harus milih jurusan apa nih, yang di jogja?”, “kalo selain kedokteran, enaknya ngambil apa?”, “aku cocok nggak sih, di kedokteran?”. Oke finally, untuk SNMPTN aku masukin kedokteran Universitas Brawijaya di urutan pertama, dan psikologi UIN SUKA di pilihan kedua. Pilihan ketiga? Kosong…
 Targetku adalah kembali ke Malang. Jadi, anggaplah pilihan kedua adalah pilihan yang tak pernah diharapkan. Cuma untuk formalitas. Berarti, bisa disimpulkan kalo pilihan itu adalah pilihan yang NEKAT. Apalagi kalau melihat faktor-faktor di atas -_- dan hasilnya bisa ditebak. NIHIL. Semua temen-temen saling menghibur. Tapi nggak tau kenapa, waktu pengumuman itu, bukannya sedih, aku malah seneng. Kenapa? Karena pilihan kuliah di jogja , secara tidak langsung udah kebuang dan aku sadar kalau Allah punya skenario yang jauh lebih baik.
Oke, saatnya move on ke SBMPTN. Sebenernya, aku juga daftar SPAN-PTKIN, tapi hasilnya juga nihil. Wkwkwk. Jadilah aku BENAR-BENAR MOVE ON ke SBMPTN. Dari sini aku belajar. Betapa kegagalan, tidak selalu harus diratapi dengan kesedihan. Ada banyak hal yang jauh lebih berharga dari kegagalan itu sendiri. Pertama, disitu aku sadar, kalo sepanjang perjalananku akan terus ada kolega yang selalu siap mendukungku di jalan kebenaran. Mulai dari teman, umi, yaya, keluarga, ustadz-ustadzah, dan masih banyak lagi. Dan itu jauh lebih berharga dari apa yang aku sesalkan. Kedua, selalu ada skenario yang Allah rahasiakan dari kita. Ketika kita sudah berdoa dan berusaha, senantiasa meminta petunjuk-Nya maka nantikanlah… Allah akan memberikan hal yang jauh lebih baik dari arah-arah yang tak terduga. Jadi, gak ada alasan untuk berputus asa dari rahmat-Nya ya readers. Hihihiii

Sekian readers, semoga bermanfaat \^^/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar