Kamis, 13 Agustus 2015

aku dan SBMPTN-ku

Assalamualaikum readers :D
Setelah kemaren aku cerita tentang SNMPTN. Sekarang kita MOVE ON ke SBMPTN. Ternyata apa-apa yang berbau move on itu perlu persiapan khusus. Mulai dari persiapan mental, sampai persiapan ruhiy dan jasady. Setelah aku tertolak oleh SNMPTN dan SPAN-PTKIN sekaligus,  maka dimulailah semangat baru yang kami sebut SEMANGAT SBMPTN. Euforianya waktu itu cukup terasa. Beberapa anak mempersiapkan waktu untuk kabur bimbel di luar pondok. Mereka ini tergolong anak-anak dengan adrenalin yang cukup tinggi-hahha- siap menerima resiko apapun. Sebagian yang lain, mulai gotong-royong membedah buku-buku latihan SBMPTN. Dengan anak “beradrenalin tinggi” sebagai tentornya. Dan sebagian lagi, ada yang menyendiri. Ngerjain soal sendiri, mojok di kamar, kalo nggak tau kadang-kadang nanya dan lebih sering celingak-celinguk  bingung sendiri.
Aku? Aku ada di posisi orang yang menyendiri. Lah? Gak niat banget ya? Udah tau masih kurang materi disana-sini masih pede aja menyendiri. Kenapa aku menyendiri? 1. Jujur! Aku udah capek ngerjain soal. Habis ujian yang seabrek, sekarang aku dihadapkan dengan soal SBMPTN yang notabene lebih sulit. 2. Karena aku udah capek, maka aku memutuskan untuk mengoptimalkan materi-materi yang aku punya. Selain itu, aku juga baca-baca apa-apa yang sekiranya masih bisa dikejar. 3. Waktu aku niat minta diajarin temenku yang “beradrenalin tinggi”, aku lihat keningnya yang berkerut, wajahnya yang lelah, dengan buku dan pensil di tangannya. Pokoknya intinya aku gak tega mau gangguin dia belajar. Akhirnya, aku Cuma duduk di sampingnya. sedikit mengobrol ringan sambil pegang buku catetan bimbelnya. Bener kata orang-orang kalo cara terbaik mencuri ilmu itu dengan membaca. Yaa… waktu itu setidaknya aku dapet sedikit materi lah dari bukunya.
Dan akhirnya, tiba waktu untuk menentukan pilihan prodi. Waktu pendaftaran SBMPTN, kebetulan aku lagi di rumah. Sebelum buka laptop, yaya-ku tanya “kak, udah istikhoroh?”. Aku jawab “udah ya”. Sudah jadi ritual, sebelum nentuin prodi, aku berusaha menyempatkan diri untuk shalat istikhoroh. Biar lebih yakin dan mantap. Setelah dibuka, aku menentukan pilihan pertama: kedokteran Brawijaya. Ketiga: psikologi UIN Malang. Lah yang kedua? *bingung beberapa saat* tiba-tiba aku inget pertanyaan iseng ke umiku, waktu aku galau berat nentuin prodi SNMPTN. “mi, enaknya aku masukin kebidanan atau keperawatan?” umiku jawab “kebidanan aja lah kak”. Akhirnya, diputuskanlah pilihan kedua –yang gak pernah kebayang sebelumnya- : kebidanan Brawijaya.
Tap-tap-tap, singkat cerita, tibalah hari ujian. Malam sebelumnya, aku menyempatkan diri untuk melihat lokasi ujian. Fakultas hukum, Universitas Brawijaya gedung B ruang 1. Untuk antisipasi, biar nggak kesesat pas berangkat. Dan nggak lupa sarapan dan menyiapkan perbekalan untuk makan siang. Antisipasi kalo kantin kampus overload dengan peserta-peserta yang kelaparan. Oiya, karena aku ambil program IPC. Maka ujian nanti bakal berjalan dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. –Ya Allah, UN aja udah klenger-
Ujian pertama, SAINTEK. Lembar demi lembar soal kubuka. Sampai di lembar terakhir, aku hitung berapa bulatan yang di LJK. 1,2,3……,11. Langsung saat itu juga aku rasanya pengen langsung teriak “TURUNKAN PETUNJUK-MU KEPADA HAMBA-MU YANG LEMAH INI YA ALLAH…”. Aku coba screening lagi dari awal. Barangkali nambah lah itu, titik-titik hitam. Akhirnya ya nambah, tapi gak signifikan. Intinya, kalo dihitung-hitung, gak mungkin aku masuk kedokteran dengan modal jawaban segitu. Akhirnya, aku putuskan untuk NEKAT, membulatkan sampai terisi setidaknya 50%. Sudah selesai-lupakan.
Ujian kedua, TPA. Yah, bisa dibilang lumayan lah. Sulit? Iya sulit lah. Tapi alhamdulillah “cukup” teratasi. Langsung ujian ketiga, SOSHUM. Ini ujian kayak nina bobo. Ngantuk banget. Bukan ngantuk karena terlalu mudah loh ya. Justru karena susah, terus aku ngerjain sebisaku, terus aku ngawur –lagi-, terus aku bosen. Dan, waktu yang tersisa itu masih lama banget. Aku udah nggak sanggup ngerjain lagi. Beberapa kali aku diliatin sama petugas karena sempat ketiduran.PARAH. Sudah selesai-lupakan.
Pulang ke rumah, melewati gerbang veteran yang ramenya masyaallah. Dipenuhi oleh wajah-wajah penuh harap. Aku? Melewati depan fakultas kedokteran, aku berdoa sambil memejamkan mata “ya Allah, berikan aku yang terbaik. Aku pingin banget masuk di fakultas itu. Kalaupun kebidanan gak papa ya Allah” *udah kayak di sinetron belom?*
Setelah “kejadian” itu, berulang kali aku ditanya “gimana SBMPTN-nya?”. Aku jawab seragam. “ kalo aku masuk kedokteran atau bahkan kebidanan, itu bisa dinamakan mukjizat -_-”. Iya nggak sih? Coba dilihat keadaanku waktu ujian. Cuma kuasa Allah lah yang bisa kuandalkan.
Tap-tap-tap, singkat cerita, hari pengumuman. Waktu itu, aku lagi dilibatkan dalam kepanitiaan pesantren I’tikaf pelajar (PIP). Sehari sebelumnya, pas buka puasa, MC sempet bilang “karena besok pengumuman SBMPTN, kita doakan kakak-kakak yang mengikuti ujian mendapat yang terbaik dari Allah SWT.” Serentak semuanya menjawab “amiin”. Aku? Jelas memohon dengan sangat sambil memejamkan mata dan ikut bilang “amiin” dengan nada ngenes.
Sore, setelah ashar, aku menyimak materi dengan khidmat. Tiba-tiba mbak hafsah menghampiri “sa, nomer ujianmu berapa? Sini tak bukain pengumumannya” sontak aku bilang “oiya, aku lupa”. Itu nggak aku buat-buat. Beneraaan,  aku lupa kalo sore itu pengumuman. Dan nggak ada greget-gregetnya sama sekali. Aku udah mikir “ah paling juga nggak masuk”. “sebentar ya mbak, tak minta kirimin nomernya dulu. Nomernya di rumah” dan mbak hafsah pun pergi. Beberapa saat kemudian, -waktu aku bantu-bantu persiapan buka puasa- satu pesan masuk lewat WA –dari yaya- . Gambar scan kartu peserta. Nunggu download selesai –maklum HP lawas- muncul satu gambar lagi. Dalam hati bertanya-tanya, gambar apakah gerangan???. Nunggu download, sambil nata gelas *salah fokus*
Masih nata gelas, aku lihat gambar yang dikirimkan tadi. Gambar pertama “oh, ini nomer pesertanya”. Gambar kedua “…. Speechless ….”. zoom in, sekali, dua kali, kok tulisannya “selamat, anda diterima di kebidanan universitas brawijaya”??? badan mulai gemetar. Pesan dibawahnya, yayaku bilang gini “ ’ala kulli hal, alhamdulillah”. Langsung aku meninggalkan gelas-gelas, mulai mencari umiku –yang waktu itu kebetulan panitia juga-. Begitu ketemu, langsung aku peluk dan gak tau kenapa, reflek nangis dan gak bisa bilang apa-apa. “kenapa kak?” umiku tanya, dan aku cuma bisa ngasihin hp yang masih menampilkan gambar dengan tampilan barcode dan tulisan “selamat, anda diterima di kebidanan universitas brawijaya”


Ini kisah, benar-benar memberiku pelajaran. Bahwa apapun hasil usaha kita, pada akhirnya semua keputusan kembali kepada Allah SWT. Allah yang maha pengasih selalu sudi mendengar doa hamba-Nya yang meminta belas kasihan. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Bahwa tidak ada daya dan upaya, kecuali milik Allah. Dan, terkadang rizki itu datangnya dari arah yang tak terduga. Yang diharap-harap kedokteran. Eh, dikasih sama Allah di kebidanan. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. kita tinggal qonaah dan mengoptimalkan apa yang kita punya. Aku ngerasa, masuknya aku di kebidanan bukan karena aku pinter. Tapi karena doa dari orang banyak. Mulai dari keluarga, teman-teman, ustadz-ustadzah, anak-anak PIP. Terimakasih semuanya :’)


Aku pernah baca di sebuah buku –yang aku lupa judulnya- yang intinya gini: Allah nggak akan mengecewakan hamba-Nya yang ber-istikhoroh, yang senantiasa meminta petunjuk-Nya. Betapa baiknya Ia, meski kita banyak sekali melakukan dosa.
Untuk temen-temen yang masih tertolak-tolak, jangan menyerah!!! Tetap semangat. Mungkin Allah masih ingin melihat seberapa gigih kamu berjuang. Mungkin Allah masih ingin menguji kesabaranmu, untuk mendapatkan apa yang akan jauuuuh lebih baik, dari semua pilihanmu yang lalu.
Untuk temen-temen yang di swasta, jangan berkecil hati. Kuliah di negri bukan berarti kamu baik seutuhnya. Negri bukan segala-galanya. Yang penting adalah bagaimana kamu mengoptimalkan apa yang telah Allah berikan kepadamu. Belajar dengan sebaik-baiknya, berperan lebih untuk bangsa, itu jauh lebih baik daripada hanya mengejar dan meratapi universitas negri yang kamu impi-impikan. Kita sama guys, yang terpenting, apapun yang Allah tetapkan untuk kita, jangan sampai kufur menggelapkan mata. Ungkapkan syukur dengan berbagai cara. Segala yang kita punya di dunia ini hanyalah ASET untuk mencapai kehidupan akhirat yang lebih kekal.

kepada readers sekalian, writer mengucapkan… terimakasih sudah rela membaca cerita yang panjaaaaaaaaang ini dan tetep SEMANGAT!!!!!. JANGAN BERSEDIH, ALLAH BERSAMA KITA J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar