Assalamualaikum readers :D
Setelah kemaren aku cerita tentang SNMPTN. Sekarang
kita MOVE ON ke SBMPTN. Ternyata apa-apa yang berbau move on itu perlu persiapan
khusus. Mulai dari persiapan mental, sampai persiapan ruhiy dan jasady. Setelah
aku tertolak oleh SNMPTN dan SPAN-PTKIN sekaligus, maka dimulailah semangat baru yang kami sebut
SEMANGAT SBMPTN. Euforianya waktu itu cukup terasa. Beberapa anak mempersiapkan
waktu untuk kabur bimbel di luar pondok. Mereka ini tergolong anak-anak dengan
adrenalin yang cukup tinggi-hahha- siap menerima resiko apapun. Sebagian yang
lain, mulai gotong-royong membedah buku-buku latihan SBMPTN. Dengan anak “beradrenalin
tinggi” sebagai tentornya. Dan sebagian lagi, ada yang menyendiri. Ngerjain soal
sendiri, mojok di kamar, kalo nggak tau kadang-kadang nanya dan lebih sering
celingak-celinguk bingung sendiri.
Aku? Aku ada di posisi orang yang menyendiri. Lah?
Gak niat banget ya? Udah tau masih kurang materi disana-sini masih pede aja
menyendiri. Kenapa aku menyendiri? 1. Jujur! Aku udah capek ngerjain soal. Habis
ujian yang seabrek, sekarang aku dihadapkan dengan soal SBMPTN yang notabene
lebih sulit. 2. Karena aku udah capek, maka aku memutuskan untuk mengoptimalkan
materi-materi yang aku punya. Selain itu, aku juga baca-baca apa-apa yang
sekiranya masih bisa dikejar. 3. Waktu aku niat minta diajarin temenku yang “beradrenalin
tinggi”, aku lihat keningnya yang berkerut, wajahnya yang lelah, dengan buku
dan pensil di tangannya. Pokoknya intinya aku gak tega mau gangguin dia
belajar. Akhirnya, aku Cuma duduk di sampingnya. sedikit mengobrol ringan sambil
pegang buku catetan bimbelnya. Bener kata orang-orang kalo cara terbaik mencuri
ilmu itu dengan membaca. Yaa… waktu itu setidaknya aku dapet sedikit materi lah
dari bukunya.
Dan akhirnya, tiba waktu untuk menentukan
pilihan prodi. Waktu pendaftaran SBMPTN, kebetulan aku lagi di rumah. Sebelum buka
laptop, yaya-ku tanya “kak, udah istikhoroh?”. Aku jawab “udah ya”. Sudah jadi
ritual, sebelum nentuin prodi, aku berusaha menyempatkan diri untuk shalat
istikhoroh. Biar lebih yakin dan mantap. Setelah dibuka, aku menentukan pilihan
pertama: kedokteran Brawijaya. Ketiga: psikologi UIN Malang. Lah yang kedua?
*bingung beberapa saat* tiba-tiba aku inget pertanyaan iseng ke umiku, waktu
aku galau berat nentuin prodi SNMPTN. “mi, enaknya aku masukin kebidanan atau
keperawatan?” umiku jawab “kebidanan aja lah kak”. Akhirnya, diputuskanlah
pilihan kedua –yang gak pernah kebayang sebelumnya- : kebidanan Brawijaya.
Tap-tap-tap, singkat cerita, tibalah hari
ujian. Malam sebelumnya, aku menyempatkan diri untuk melihat lokasi ujian. Fakultas
hukum, Universitas Brawijaya gedung B ruang 1. Untuk antisipasi, biar nggak
kesesat pas berangkat. Dan nggak lupa sarapan dan menyiapkan perbekalan untuk
makan siang. Antisipasi kalo kantin kampus overload dengan peserta-peserta yang
kelaparan. Oiya, karena aku ambil program IPC. Maka ujian nanti bakal berjalan
dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. –Ya Allah, UN aja udah klenger-
Ujian pertama, SAINTEK. Lembar demi lembar soal
kubuka. Sampai di lembar terakhir, aku hitung berapa bulatan yang di LJK. 1,2,3……,11.
Langsung saat itu juga aku rasanya pengen langsung teriak “TURUNKAN PETUNJUK-MU
KEPADA HAMBA-MU YANG LEMAH INI YA ALLAH…”. Aku coba screening lagi dari awal. Barangkali
nambah lah itu, titik-titik hitam. Akhirnya ya nambah, tapi gak signifikan. Intinya,
kalo dihitung-hitung, gak mungkin aku masuk kedokteran dengan modal jawaban
segitu. Akhirnya, aku putuskan untuk NEKAT, membulatkan sampai terisi
setidaknya 50%. Sudah selesai-lupakan.
Ujian kedua, TPA. Yah, bisa dibilang lumayan
lah. Sulit? Iya sulit lah. Tapi alhamdulillah “cukup” teratasi. Langsung ujian
ketiga, SOSHUM. Ini ujian kayak nina bobo. Ngantuk banget. Bukan ngantuk karena
terlalu mudah loh ya. Justru karena susah, terus aku ngerjain sebisaku, terus
aku ngawur –lagi-, terus aku bosen. Dan, waktu yang tersisa itu masih lama banget.
Aku udah nggak sanggup ngerjain lagi. Beberapa kali aku diliatin sama petugas karena
sempat ketiduran.PARAH. Sudah selesai-lupakan.
Pulang ke rumah, melewati gerbang veteran yang
ramenya masyaallah. Dipenuhi oleh wajah-wajah penuh harap. Aku? Melewati depan
fakultas kedokteran, aku berdoa sambil memejamkan mata “ya Allah, berikan aku
yang terbaik. Aku pingin banget masuk di fakultas itu. Kalaupun kebidanan gak
papa ya Allah” *udah kayak di sinetron belom?*
Setelah “kejadian” itu, berulang kali aku
ditanya “gimana SBMPTN-nya?”. Aku jawab seragam. “ kalo aku masuk kedokteran
atau bahkan kebidanan, itu bisa dinamakan mukjizat -_-”. Iya nggak sih? Coba dilihat
keadaanku waktu ujian. Cuma kuasa Allah lah yang bisa kuandalkan.
Tap-tap-tap, singkat cerita, hari pengumuman. Waktu
itu, aku lagi dilibatkan dalam kepanitiaan pesantren I’tikaf pelajar (PIP). Sehari
sebelumnya, pas buka puasa, MC sempet bilang “karena besok pengumuman SBMPTN,
kita doakan kakak-kakak yang mengikuti ujian mendapat yang terbaik dari Allah
SWT.” Serentak semuanya menjawab “amiin”. Aku? Jelas memohon dengan sangat
sambil memejamkan mata dan ikut bilang “amiin” dengan nada ngenes.
Sore, setelah ashar, aku menyimak materi dengan
khidmat. Tiba-tiba mbak hafsah menghampiri “sa, nomer ujianmu berapa? Sini tak
bukain pengumumannya” sontak aku bilang “oiya, aku lupa”. Itu nggak aku
buat-buat. Beneraaan, aku lupa kalo sore
itu pengumuman. Dan nggak ada greget-gregetnya sama sekali. Aku udah mikir “ah
paling juga nggak masuk”. “sebentar ya mbak, tak minta kirimin nomernya dulu. Nomernya
di rumah” dan mbak hafsah pun pergi. Beberapa saat kemudian, -waktu aku bantu-bantu
persiapan buka puasa- satu pesan masuk lewat WA –dari yaya- . Gambar scan kartu
peserta. Nunggu download selesai –maklum HP lawas- muncul satu gambar lagi. Dalam
hati bertanya-tanya, gambar apakah gerangan???. Nunggu download, sambil nata
gelas *salah fokus*
Masih nata gelas, aku lihat gambar yang
dikirimkan tadi. Gambar pertama “oh, ini nomer pesertanya”. Gambar kedua “…. Speechless
….”. zoom in, sekali, dua kali, kok tulisannya “selamat, anda diterima di
kebidanan universitas brawijaya”??? badan mulai gemetar. Pesan dibawahnya,
yayaku bilang gini “ ’ala kulli hal, alhamdulillah”. Langsung aku meninggalkan
gelas-gelas, mulai mencari umiku –yang waktu itu kebetulan panitia juga-. Begitu
ketemu, langsung aku peluk dan gak tau kenapa, reflek nangis dan gak bisa
bilang apa-apa. “kenapa kak?” umiku tanya, dan aku cuma bisa ngasihin hp yang
masih menampilkan gambar dengan tampilan barcode dan tulisan “selamat, anda
diterima di kebidanan universitas brawijaya”
Ini kisah, benar-benar memberiku pelajaran. Bahwa
apapun hasil usaha kita, pada akhirnya semua keputusan kembali kepada Allah
SWT. Allah yang maha pengasih selalu sudi mendengar doa hamba-Nya yang meminta
belas kasihan. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Bahwa tidak ada daya dan
upaya, kecuali milik Allah. Dan, terkadang rizki itu datangnya dari arah yang tak terduga. Yang diharap-harap kedokteran. Eh, dikasih sama Allah di kebidanan. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. kita tinggal qonaah dan mengoptimalkan apa yang kita punya. Aku ngerasa, masuknya aku di kebidanan bukan karena
aku pinter. Tapi karena doa dari orang banyak. Mulai dari keluarga,
teman-teman, ustadz-ustadzah, anak-anak PIP. Terimakasih semuanya :’)
Aku pernah baca di sebuah buku –yang aku lupa
judulnya- yang intinya gini: Allah nggak akan mengecewakan hamba-Nya yang
ber-istikhoroh, yang senantiasa meminta petunjuk-Nya. Betapa baiknya Ia, meski
kita banyak sekali melakukan dosa.
Untuk temen-temen yang masih tertolak-tolak,
jangan menyerah!!! Tetap semangat. Mungkin Allah masih ingin melihat seberapa
gigih kamu berjuang. Mungkin Allah masih ingin menguji kesabaranmu, untuk
mendapatkan apa yang akan jauuuuh lebih baik, dari semua pilihanmu yang lalu.
Untuk temen-temen yang di swasta, jangan
berkecil hati. Kuliah di negri bukan berarti kamu baik seutuhnya. Negri bukan
segala-galanya. Yang penting adalah bagaimana kamu mengoptimalkan apa yang
telah Allah berikan kepadamu. Belajar dengan sebaik-baiknya, berperan lebih
untuk bangsa, itu jauh lebih baik daripada hanya mengejar dan meratapi universitas
negri yang kamu impi-impikan. Kita sama guys, yang terpenting, apapun yang
Allah tetapkan untuk kita, jangan sampai kufur menggelapkan mata. Ungkapkan syukur
dengan berbagai cara. Segala yang kita punya di dunia ini hanyalah ASET untuk
mencapai kehidupan akhirat yang lebih kekal.
kepada readers sekalian, writer mengucapkan…
terimakasih sudah rela membaca cerita yang panjaaaaaaaaang ini dan tetep
SEMANGAT!!!!!. JANGAN BERSEDIH, ALLAH BERSAMA KITA J


