DIMANA PERAN
MAHASISWA KESEHATAN?
oleh: Salsabila Yasmin
Dari zaman perjuangan kemerdekaan, mahasiswa selalu menjadi ujung
tombak dari suara-suara rakyat. Mahasiswa-mahasiswa pejuang ini lahir dari
rakyat dan dan berjuang untuk rakyat. Dengan idealisme berfikirnya, mahasiswa
selalu mengedepankan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat semesta. Dengan
berbagai latar belakangnya, mahasiswa dapat menyatukan kekuatannya untuk
kepentingan bersama.
Lalu, dari sini mulai muncul pertanyaan. Sebagai mahasiswa
kesehatan, apa peran kita dalam kancah pergerakan kemahasiswaan? Masih ingat,
di tahun 1908 mahasiswa-mahasiswa dari perguruan tinggi STOVIA, Dr. Soetomo
bersama dengan Gunawan Mangkoekoesoemo dan Soeraji merintis sebuah organisasi
yang digadang-gadang sebagai awal dari kebangkitan bangsa. Boedi Oetomo nama
organisasinya. Organisasi yang pertama kali menyerukan tujuan untuk Indonesia
merdeka.
STOVIA, sekolah kedokteran di Hindia bagi para pribumi. Mahasiswanya
tidak hanya memikirkan kesehatan, tapi juga sosial, ekonomi, kebudayaan dan
nasionalisme. Merekalah motor dari kebangkitan pergerakan kemerdekaan
Indonesia. Tidak main-main hasilnya, bahkan sudah dikenang sepanjang masa.
Lalu, apa peran mahasiswa
kesehatan di era globalisasi? Di era globalisasi, segalanya menjadi sangat
mudah. Suatu hal yang jauh bisa dengan cepat didekatkan. Hal yang dulu tidak
mungkin dilakukan, saat ini bahkan bisa tersedia di ujung jari kita.
Globalisasi ini tentu menimbulkan dampak
positif dan negatif. Dampak negatif inilah yang mesti diwaspadai. Sejak era
globalisasi, persaingan ekonomi semakin ketat. Dengan keadaan tersebut,
pedagang kecil dan menengahlah yang akan merasakan pahitnya. Arus informasi
semakin tidak terbendung. Akibatnya, moral anak bangsa terancam dengan konten
pornografi yang bebas diakses dimana-mana. Selain itu masih banyak lagi dampak
negatif dari globalisasi yang mengancam kesejahteraan jiwa dan raga bangsa.
Saat ini, anggapan umum terhadap mahasiswa kesehatan adalah
mahasiswa-mahasiswa yang “study oriented”. Asik dengan dunianya sendiri.
Sibuk dengan mata kuliah yang menyita waktu dan pikiran. Sehingga tidak sempat
lagi untuk menanggapi isu-isu global maupun nasional. Padahal, bangsa ini
sedang terguncang. Apakah anggapan tersebut dapat dibenarkan? Kita sendirilah
yang dapat menjawabnya.
Sebagai mahasiswa kesehatan, sebenarnya kita memiliki tanggung
jawab yang besar terhadap kesejahteraan bangsa. Masih ingat tentang definisi
sehat? Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan
yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari
penyakit atau kelemahan. Yang menjadi garis bawah disini adalah, sehat tidak
hanya secara fisik, tapi juga mental dan sosial. Kesehatan mental dan sosial
hanya dapat diraih jika seseorang mencapai taraf kesejahteraan. Kesejahteraan
bangsa dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, politik, dan budaya. Jadi, sebagai
mahasiswa kesehatan, secara tidak langsung kita juga harus memperhatikan semua
sektor yang mempengaruhi kesejahteraan bangsa.
Lagipula, dalam lagu kebangsaan kita juga sudah disebutkan
“bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Untuk Indonesia raya.” Sebagai
mahasiswa kesehatan, kita seharusnya paham, untuk membangun raga bangsa
Indonesia yang sehat, jiwa bangsa yang kokoh haruslah dibangun terlebih dahulu.
Harapannya, mahasiswa kesehatan dapat membangun bangsa Indonesia secara
holistik. Membuat indonesia sehat dengan sebenar-benarnya definisi sehat.
